Melepaskan?

Aku dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kami hanya diberi waktu satu tahun untuk saling memahami seberapa rumit dan mudahnya mencintai. Tapi sepertinya, diantara kami berdua tidak ada sama sekali yang mengerti apa itu arti cinta. Aku dari keluarga yang penuh duka, sedangkan dirinya? Aku tidak tahu jelas pastinya.

Dari lubuk hatiku, aku senang sempat jatuh hati pada manusia seunik dirinya. Lesung pipi yang membuatnya semakin tampan rupawan. Senyuman yang selalu ia tunjukkan bukan hanya untuk manusia yang ia rasa dekat dengannya, tapi untuk siapapun yang menurutnya berhak mendapatkan sedikit kehangatan dari dinginnya dunia ini. 

Aku bersyukur sempat menjadi salah satu manusia yang melihat ia tersenyum lepas, tertawa, menangis, bahagia, cemburu, bahkan marah sekalipun. Dia layaknya pria biasa, merokok meski sesekali, pulang larut malam dan bertualang kemanapun yang ia rasa akan memuaskan dahaga keingintahuannya. Dan ya, aku menyukainya. Entah apa alasan pastinya. Yang  jelas, aku ingin berterima kasih pada setiap momen yang tak sempat aku abadikan dengan kamera. Dia salah satu manusia baik dari banyaknya manusia yang pernah aku temui, dan dirinya pantas mendapatkan semua kebaikan yang ada di dunia ini.

Kami selesai. Rasa bersalah yang kemarin sempat menghantuiku kini mulai mereda. Aku terus mencerna, apa sebenarnya yang membuatku merasa bersalah? Apa karena aku yang tiba-tiba saja memutuskan hubungan kami? Atau karena aku sempat tidak percaya padanya? Ah, tapi bukankah dia juga tidak mempercayaiku? Dan ya, sepertinya kisah ini selesai karena kami tidak saling mempercayai satu sama lain. Ku akui, sulit sekali mempertahankan kepercayaan dalam sebuah hubungan.

Dia bergelut dengan kesibukannya, dan disini aku selalu merindukannya. Menyedihkan.

Aku seperti penjelajah yang tersesat, merindukan sebuah rumah yang kutinggalkan atas pilihanku sendiri. Tak jarang aku ingin mengetahui kabarnya, mendengar suaranya, menertawakan semua cerita lucunya, mendengarkan musik bersamanya, bermain dengan kucing peliharaannya, dan menikmati matahari terbenam hingga digantikan indahnya terang rembulan.

Aku pergi, tapi terkadang aku ingin kembali.

Ada yang mengatakan padaku, “jika kembali hanya untuk mengulang kesalahan yang sama, aku sarankan berhenti sekarang juga.”  

Dan ya, aku rasa diriku belum mampu menghadapi semua hiruk-pikuk sebuah hubungan. Aku dengan diriku saja seperti medan perang setiap harinya, berisik dan ingin menghabisi satu sama lain. Jadi, masih banyak yang harus aku perbaiki sebelum memilih kembali atau mungkin melangkah maju lagi. Meski nyatanya tak dapat dipungkiri betapa aku menginginkan dirinya, sekali lagi. 

Setiap kali aku melihat gambar dirinya, menghirup aroma parfumnya dan mendengar namanya. Aku ingin kembali merasakan 'nyaman' yang dulu selalu kudapatkan saat bersamanya. Sayangnya, tidak lagi. Setidaknya, tidak untuk saat ini.

Harapan dan doaku masih sama, aku ingin Tuhan selalu bersamanya dan dirinya selalu dikelilingi manusia-manusia baik yang selalu menyayanginya, memberinya kebahagian, dan dia senantiasa hidup sehat dengan penuh rasa syukur serta cinta yang membuatnya selalu ingin hidup lebih lama lagi.