Seporsi Kemenangan

Sore ini aku memutuskan untuk pergi ke tempat makan nasi goreng yang dulu aku kira biasa saja.

Sebelum ke sini, aku bertanya pada diriku sendiri, "Apa yang sebenarnya kurindukan? Mengapa seporsi nasi goreng bisa menjadi sangat spesial sekarang?"

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang siapapun, jawabannya sudah sangat jelas. Tapi aku menolak jika kamu menjadi satu-satunya alasan dari seluruh kerinduan ini. Rasanya bukan hanya itu yang menjadi masalah dari perasaanku sekarang. Ada hal lain menyangkut diriku yang juga sedang amat kurindukan. Namun mungkin untuk saat ini, yang terlintas paling jelas memang hanya kamu. Entahlah. Entah apa semua itu.

Aku menulis ini sembari makan nasi goreng langsung di tempatnya, sendirian. Tidak ada pelanggan lain—hanya aku dan kenangan kita dulu. Lucunya, bahkan di tengah makan pun, kamu selalu menjadi topik utama yang ingin sekali kutulis.

Oh ya, kali ini seporsi nasi goreng yang memenuhi piringku, lengkap dengan tomatnya habis tak tersisa sedikitpun. Luar biasa bukan?

Aku mencoba untuk tidak membenci tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Bagaimanapun, di situlah cerita kita pernah terangkai indah—rangkaian yang akan selalu kurindukan, entah sampai kapan.

Rasanya, ini menjadi seporsi kemenangan. Aku menang dalam merindukanmu, dan biarkan dunia tahu tentang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar