— "Sulung", Kunto Aji
Liriknya diulang beberapa kali. Ya, pengulangan itu terjadi seolah-olah memberitahu pendengarnya untuk benar-benar merelakan apa yang memang tidak ditakdirkan untuk menjadi miliknya.
Aku senang mendengarkan lagu-lagu Kunto Aji. Diksinya sangat indah, kadang aku geli mendengarnya, tak jarang juga dibuat menangis dengan sendirinya.
Aku sempat memberitahumu betapa aku sangat mencintai musik—meski musik yang aku dengarkan sedikit berbeda dengan seleramu. Tapi, bertemu dengan sosok manusia yang sama-sama mencintai musik rasanya membuatku ingin mengenalmu lebih dalam. Karena aku percaya, setiap manusia mempunyai sisi sentimentalnya masing-masing, dan aku ingin tahu apa alasan dirimu memilih untuk menyukai musik.
Dengan mendengarkan musik, aku merasa sedang diterjemahkan. Banyak hal yang tidak aku mengerti, khususnya tentang diriku sendiri. Itulah mengapa, musik sangat berarti untukku.
Aku tidak mempunyai teman dekat. Sepi rasanya. Tapi dengan keramaianpun, aku tidak suka.
Aku menikmati hidupku yang banyak varian rasa ini. Kadang aku membenci, tak jarang juga aku memaki, seringnya menyendiri, dan mencintai yang saat ini masih aku usahakan setengah mati.
Kembali lagi ke topik "Sulung" tadi.
Perihal merelakan.
"Rela"—satu kata, empat huruf, dan sedikit manusia yang memiliki keahlian untuk memahami maknanya. Merelakan bukanlah hal yang mudah, semua orang tahu itu. Tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan.
Temanku pernah berkata, "Kayanya, cara satu-satunya supaya kamu lupa tentang dia adalah dengan mencari sosok yang baru deh."
Aku sedikit terkejut mendengar itu. Ia kemudian menjelaskan maksudnya—bahwa aku memang harus mencoba belajar menerima semuanya, merelakan apa yang sudah terjadi dimasa lalu, dan coba membuka kembali pintu yang sedang aku tutup rapat hingga saat ini. Aku paham betul maksudnya. Tapi ku pikir, jika aku melanjutkan perjalanan dengan terburu-buru rasanya tidak adil untuk hatiku.
Memang benar, aku tidak ingin selalu merindukanmu. Aku tidak ingin kamu menjadi sosok yang selalu kuceritakan kepada temanku. Tapi, merelakanmu masih menjadi hal yang belum mampu kulakukan. Aku tidak ingin melupakan semua kenangan itu, meski kenyataanya aku adalah manusia biasa yang kapan saja bisa lupa, aku tetap tidak ingin melupakanmu dengan sengaja.
Aku ingin 'tentangmu' memudar dengan sendirinya—tanpa paksaan dan kesedihan apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar