Setidaknya kita pernah bersama, meski saat ini bukan aku yang akan mengisi duniamu lagi. Tidak akan ada lagi aku yang akan mendengarkan semua cerita lucumu. Padahal nyatanya aku masih sangat ingin melihatmu mengusahakan semuanya, aku masih ingin kamu menunjukkan kepadaku bagaimana dunia ini bisa menjadi sangat menarik di matamu. Aku masih ingin terlibat dan mendengarkan semuanya, tentangmu.
Aku tumbuh, begitupun dirimu. Aku menyadari bahwa aku harus tetap melanjutkan perjalanan ini dengan perasaan yang akan selalu sama entah sampai kapan.
Sedih, bahagia, marah, kecewa, bahkan terkadang ingin menyerah. Perasaan itulah yang kita rasakan dalam hubungan yang akhirnya selesai dengan alasan sudah tidak ada lagi cinta yang aku rasa. Nyatanya, bukan karena sudah tidak ada, tetapi aku sedang berusaha untuk mengendalikan semua perasaan itu. Terkesan sangat mementingkan diri sendiri, tapi begitulah caraku bertahan sejauh ini.
Keputusanku untuk melepaskanmu adalah bentuk dari 'aku mengendalikan perasaanku'. Rasa terlalu mencintai manusia yang bahkan aku sendiripun tidak tahu apakah memang kamu orangnya atau bukan. Aku takut. Semakin lama kita bersama, semakin sulit pula melihat apakah semua itu baik atau tidak.
Aku mencintaimu, bahkan sebelum kamu mengetahui itu.
Aku berhenti menghubungimu. Tapi untuk rindu ini, aku belum cukup mahir dalam mengendalikannya.
Seperti gelas utuh yang tak sengaja aku pecahkan, kita sungguh tidak bisa kembali untuk saling mengisi. Aku sempat meminta yang terbaik. Dan ternyata, kita berakhir dengan Ia menjauhkanku darimu.
Aku berusaha melihat ini semua dari sisi yang tidak akan pernah aku sesali. Tetapi tak dapat dipungkiri. Bayanganmu masih berputar setiap kali aku ingin menceritakan semua hal yang terjadi dalam hidupku setelah tidak ada kamu. Bahkan jika memang inilah akhirnya, aku harap duniamu bisa lebih berwarna walau tanpa adanya kita.
Maaf, karena telah menjadi salah satu manusia yang harus melepaskanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar