Surat yang Tak Perlu Sampai


Kamu tahu? Ada  banyak hal yang tidak bisa kusampaikan dengan kalimat-kalimat indah yang mungkin akan membuatmu mengerti bagaimana sebenarnya perasaanku ini. Tapi hari ini, aku penuh sekali. Penuh dengan rasa rindu dan mengenangmu. Tidak banyak yang tahu bagaimana aku dan kamu sempat menjadi kita, hingga akhirnya kembali menjadi dua manusia yang seolah-olah tidak pernah bersama untuk menjalin kisah dan kasih sebuah rasa. 

Ternyata bukan aku yang tidak bisa melupakanmu. Hanya saja, semua perjalanan yang melibatkanmu terasa sangat menyenangkan dan berhasil membuat hatiku penuh dengan kebahagiaan. Ruang kosong yang sempat kamu isi, kini kembali menjadi ruangan yang sunyi. Aku yang dulu berhasil berdamai dengan kesendirian, tiba-tiba saja membuat sebuah keputusan untuk memilih menjatuhkan hatiku padamu. Sebuah keputusan yang berubah menjadi keputusasaan. 

Salahnya, aku terlalu takut. Dan ketakutan tersebut yang membuatku sangat merasa bersalah hingga saat ini.

Kebahagiaan yang aku dapatkan saat bersamamu, aku ingin semua itu terjadi selamanya. Lucu memang. Padahal jelas sekali tidak ada yang namanya selamanya. Karena semakin lama bersamamu, rasanya aku semakin takut kehilanganmu. Aku takut ada bagian diriku yang menginginkanmu dengan sangat.

Tapi, Tuhan menyelamatkanmu dariku. 

Meski terkesan akulah yang menjadi si antagonis itu, namun demi apa pun aku juga tidak menginginkan ini semua. 

Semua kerinduan yang kurasakan mungkin berhasil membuat semesta mengasihaniku. Aku yang memutuskan untuk berhenti, tapi aku juga yang paling berisik merayu-Nya untuk membawamu kempali padaku, seolah-olah kamulah yang pergi meninggalkanku. 

Aku menyadari banyak hal, dan salah satunya adalah, kita memang tidak bisa menjadi kita. 

Sepertinya kalimat "ada satu hal yang belum selesai sehingga sulit sekali aku berhenti untuk  memikirkanmu" bukanlah hal yang menyangkut kita, tapi aku. Kamu menjadi korban dari buruknya caraku berkomunikasi.

Rasanya maafku saja tidak akan cukup untuk menghapus semua rasa kesalmu itu. Goresan yang kuciptakan berhasil melukaimu begitu dalam dan membuatmu tidak akan kembali bahkan hanya untuk menoleh melihatku. Tapi sungguh, maaf. 

Di sana, kamu menjadi versi terbaikmu dan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Sementara aku di sini, akan benar-benar berusaha semampuku untuk berhenti menjatuhkan hatiku padamu. 

Aku berani menulis, karena kamu tidak suka membaca kalimat yang sangat panjang. Jadi aku berharap, tulisan ini tidak akan pernah sampai ke matamu. 

Aku berharap kamu tetap menjadi manusia yang enggan mengeja paragraf demi paragraf, agar semua rasa bersalah, rindu, dan maaf yang kutumpahkan di sini tetap menjadi rahasia yang paling aman dari jangkauanmu. Biarlah kalimat-kalimat yang panjang ini cukup mengudara di ruang sunyiku menjadi saksi bahwa aku pernah mencintaimu begitu hebat, tanpa perlu mengusik semua ketenangan yang sedang kamu ciptakan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar